Almost two years ago, he is passed away, may Allah forgive him and all of us, aamiin. Semoga apa yang pernah terjadi pada saya tidak terulang lagi dan bisa menjadi pelajaran untuk semuanya. Bismillah, izinkan saya untuk sekedar berbagi cerita ya.
Tumor Mediastinum
Tumor mediastinum adalah tumor yang tumbuh di bagian mediastinum, yaitu rongga di tengah dada yang terletak di antara tulang dada (sternum) dan tulang belakang. Tumor mediastinum dapat terjadi siapa saja, baik orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak (sumber)
Di atas adalah penjelasan singkat dari tumor mediastinum, dan saya menyebutnya dengan 'tumed', karena itulah bahasa keseharian dokter di RS ketika menyebutkan penyakit ini. Enggak pernah nyangka sih akan berurusan dengan salah satu penyakit mematikan ini, ya walaupun sebenarnya sakit enggak sakit bisa mati.
Kita telat tau bahwa aba Zhafran (ayahnya Zhafran) ini punya tumor selama beberapa tahun belakangan. Karena kelalaian kami yang menyepelekan penyakit maka kami baru memeriksakannya ke RS ketika ia sudah parah (stadium akhir) dari yang gejala ringan sampai berat yaitu batuk darah, tidak bisa bicara, bahkan tidak bisa berjalan. Dan kini saya coba meringkas apa saja gejala-gejala yang sebelumnya beliau rahimahullah keluhkan;
- Batukjangan meremehkan batuk apalagi kalau sudah lama, mingguan bahkan bulanan, kita enggak pernah tau apa yang salah dengan diri kita. Kalau memang dengan herbal sudah enggak mempan dan ke klinik pun hanya bolak balik aja, mending langsung ke RS. iya betul RIBET! semua malas ribet, bertele-tele, makan waktu banyak kalau sudah ke RS enggak bisa cuma sekali datang. Apalagi kalau modal BPJS, yah wassalam~ itulah sebabnya aba Zhafran enggak pernah mau ke RS. Padahal ia sudah ngeluhin batuk cukup lama, bahkan sampai ia malu kalau lagi di kantor, mau batuk mesti ke kamar mandi dulu biar enggak ganggu yang lain. Jadi batuk itu bukan cuma karena banyak minum es atau hawa dingin aja. Batuk juga bisa jadi sinyal kalau organ dalam kamu minta tolong, ada sesuatu yang membuat dia enggak bisa berfungsi dengan baik, ya hati-hati bisa jadi tumor, kanker, TBC atau karena perokok pasif atau aktif. Apalagi sekarang ya, batuk juga bisa jadi karena covid. No one know.
- Gampang CapekIni samar banget sebenarnya untuk kita deteksi, apa memang capek karena daily routine atau karena tumornya. Karena daily routine beliau sangat padat, berangkat kerja jam 7, selesainya jam 4. Enggak ada space untuk pulang, beliau lanjut berangkat kuliah sore, yang jarak kantor ke kampus itu 17km. Dan pulang sampe rumah itu sekitar jam setengah 10. Jadi kebayang ya capeknya. Makanya beliau gampang capek, seringnya ketika ke klinik untuk periksa pasti dokter bilang "ini gejala tipes" dan ya sudah dikasihnya obat untuk tipes itu. Sampai sudah hafal obat apa yang akan di kasih dokter klinik, akhirnya dia tebus obat sendiri kalau rasa capeknya itu kambuh. Rasa capeknya itu enggak bisa hilang yang cuma istirahat 2-3 hari. Bisa sampe istirahat seminggu bahkan lebih. Jadi coba cek, "gampang capek" kita itu ada di batas normal apa enggak.
- Meriang, Masuk AnginGampang capek di atas seringnya barengan sama meriang dan masuk angin. Bahkan beliau berpikir kalau jaket yang dipakai itulah penyebab ia masuk angin karena kurang tebal. Jadi sering gonta-ganti jaket yang buat hiking biar enggak masuk angin kalau pulang malam naik motor. Yang suka langganan kerokan juga hati-hati ya, misal tiap pekan harus dikerok karena selalu ngerasa enggak enak badan. Coba di telusuri lagi penyebabnya apa. Karena meriang, panas demam gitu salah satu juga cara tubuh komunikasi ada sel-sel yang sedang berjuang melawan sel lainnya.
- Sesak di bagian Dada
Untuk kasus tumed yang aku hadapi ini karena beliau tumednya ada di bagian kiri depan, jadi beliau sering keluhkan sesak setiap bangun tidur di sebelah kiri. Dan sesaknya bukan kayak sesak nafas, tapi lebih ke sesak/nyeri di satu titik. Seperti orang salah urat tapi di bagian dada kiri, entah ya cara mendeskripsikan ini dengan benar gimana~ - Turunnya Selera Makan & Berat Badan
Seleranya sangat turun, makan jadi hanya sebuah rutinitas aja agar perutnya tidak kosong dan maagnya tidak kambuh. Kalau tidak dipaksakan mungkin akan sulit makan. Ya otomatis ya kalau susah makan pasti akan ngaruh ke berat badannya.
Kira-kira begitu ya penjelasan singkat gejala dan penyebabnya. Gejala tersebut semakin memberat hingga batuk darah dan ketika sudah di rawat semakin melemah dengan hilangnya suara. Dan bahkan karena tumornya semakin membesar membuat ia tidak bisa tidur secara terlentang, beliau bisanya tidur miring atau duduk. Kalau dipaksa sandaran maka akan membuat reaksi batuk dan itu membuat ia merasa sesak dan sakit sekali. Jadi sebisa mungkin kami meminimalisir hal yang membuatnya semakin sesak.
Aku lambaikan tangan, sudah hujan deras di sini, sampai sini dulu ceritanya❤
semangat
(maaf untuk pembaca 30 DWC ini tidak sesuai tema)
