Jumat, 13 Agustus 2021

Romantika Merdeka

Bagian yang disuka ketika mendengar 'merdeka' ialah saat seseorang atau sekelompok orang bisa bebas memilih ke mana ia akan menentukan pilihannya sesuai dengan yang ia yakini. Pasti ia memilih karena ingin memerdekakan rasanya, keinginannya, nalurinya, kebutuhannya, ya semacamnya lah~

❤❤❤

Bilal bin Rabah

Namanya adalah Bilal bin Rabah, terkenal sebagai muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk menyelesaikannya.

Bilal lahir di daerah Sarah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam). Di sini kita tau bahwa body shamming sudah terjadi dari zaman dulu. Mereka sekeluarga ialah budak dari Umayyah bin Khalaf.

Umayyah bin Khalaf ialah petinggi suku Quraisy yang terkenal dengan kekejamannya dan kerasnya menindas orang-orang yang bertauhid mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Bahkan saking kejamnya ia pun digolongkan dengan "Orang-Orang yang Dijamin Masuk Neraka"

Umayyah memerintahkan para pembantunya untuk mengeluarkan Bilal di terik matahari, di mana padang pasir Mekah menjadi bara api yang membinasakan, mereka menyungkurkan Bilal di atas kepanasan yang membakar dalam keadaan telanjang, kemudian mereka mendatangkan batu panas ibarat bara api dan meletakkan di atas dadanya.

Lantas Umayyah berkata pada Bilal,
“Demi Allah, kau akan tetap seperti ini hingga meninggalkan agama Muhammad.” Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk

Namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” 
Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas

Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“

Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”

Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

❤❤❤

Ya begitulah romantika merdeka. Dari cerita di atas inilah kita bisa mengambil ibroh bahwa jika ingin merdeka maka perjuangkanlah, berkorbanlah. Karena rasanya lebih manis ketimbang hanya manut saja dalam perbudakan yang tidak bisa kita tolerir lagi.

Dan sungguh merdeka itu ialah saat hati kita tidak lagi terpaut kepada siapapun kecuali Allah. Jika masih ada rasa terkukung dalam hati inginkan selain Allah. Maka coba mulai berjuanglah untuk merdeka.

Semoga kisah Bilal bin Rabah bisa menjadi penyemangat dalam kehidupan kita sekarang ini, walaupun berbeda medan perang. Walapun beda kondisi dan situasi. Dan semoga yang terucap di lisan dan hati kita ialah “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).”