Rabu, 04 Agustus 2021

You Become What You Focus On

Produktivitas sering kali membuat seseorang ingin selalu  memberikan yang terbaik yang ia punya. Sebisa mungkin untuk on track dan sesuai dengan apa yang mereka planning. Memberikan dan melatih diri untuk melakukan terus suatu manfaat yang raga, pikiran dan hatinya bisa lakukan. Bahasa mantepnya ya "jor-joran"

Bentar-bentar deh, kok sampe segitunya sih orang mau jadi produktif?
Ternyata jawabannya adalah karena TUJUANNYA JELAS

Ia punya tekad dan semangat untuk sesuatu yang sedang ia kerjakan. Tujuannya jelas, sikapnya lugas, ucapannya tegas. Orang-orang yang seperti ini biasanya ia sudah tau apa visi-misi hidupnya. 

👤 "kamu kenapa sih kok belajar sampe segitunya, ini udah tengah malem, yuk istirahat dulu...."
👤 "iya nih aku enggak mau sampe gagal di tes ini, aku bener-bener harus berhasil, karena aku pengen banget di kampus itu!"
👤 "iya aku tau kok, kamu pengen banget di kampus itu, aku juga mau. Tapi ini udah malem loh, istirahat aja dulu. besok lagi kan bisa"
👤 "kamu kalau mau tidur duluan enggak papa kok, aku bener-bener harus usaha dan make sure tes aku nanti akan berhasil, karena aku khawatir banget kalau sampe enggak diterima"
👤 "Iya yah, aku juga jadi semangat nih kayak kamu. Pengen sama-sama bisa lolos..."

Sudah pasti terbayang dan tergambar ya gimana percakapan di atas. Yang satu getol banget belajarnya, yang satu ya B aja gitu tadinya. Enggak yang terlalu study hard untuk bisa mencapai goalsnya.

Oke, coba bayangin kalau itu adalah tentang keinginan kita akan akhirat. Tentang hari hisab, perjalanan abadi yang enggak tau siapa yang bisa lolos masuk ke surga atau malah diceburin ke neraka (ah enggak asik banget ngomonginnya ini) ya memang engga akan asik banget kalau sekarang untuk diobrolin. Tapi WALLAHI nanti ketika di sana kita bener-bener enggak akan ada obrolan kayak gini. Karena semua sibuk sama hasil amalannya masing-masing ketika pas masih di dunia. Yang ternyata kurang banget dan rugi bandar karena enggak pernah sungguh-sungguh untuk ngobrolin dan persiapkan akhiratnya. Selalu merasa baik-baik saja, dan aman-aman saja.

Aku ngetik ini ngebayangin apa yang pernah aku tulis tentang tadabbur di surat As Sajdah, coba yang belum tau bisa baca ini

Pantesan selama ini berpuluh tahun ini selalu B aja ketika diomongin masalah akhirat. Bahkan selalu tersinggung kalau diingatkan masalah akhirat. Ya ternyata karena kita enggak merasa ada tujuan yang jelas. Kita tidak berpikir kalau akhirat itu sesuatu perkara yang jelas dan tegas adanya. Kita enggak berusaha untuk lolos darinya. Apakah kita terlalu menganggap enteng urusan akhirat karena ternyata hati kita telah berkarat karena maksiat?

Na'udzubillah.