Sabtu, 07 Agustus 2021

Merana Karena Semenjana


    Yang katanya hidup harus seimbang kapan harus ibadah dan pundi rupiah tetap bertambah. Karena ada raga, keluarga dan ego saingan antar kolega yang harus dipenuhi kebutuhannya. Maka seringnya ia tancap saja gasnya tanpa peduli rupiahnya halal atau diam-diam hasil jarah. 

    Ia obses sekali dengan indahnya rumah, enaknya jalan-jalan dengan kendaraan yang "wah", tak lupa ia icip kuliner di setiap kota dan negara yang ia kunjungi untuk memenuhi hasrat lidah. Ya sah-sah saja, tapi apa ia itu yang disebut dengan hidup seimbang dunia akhirah?

    Layaknya gasing, coba perhatikan bentuk dari mainan ini. Ia butuh pijakan poros agar bisa berputar dan ia butuh body yang presisi antara kanan dan kiri agar ketika dimainkan bisa memutar lama. Layaknya kita sebagai porosnya. Dibebani atasnya itu dengan sisi kanan-kiri, dunia-akhirat.

    Mereka yang obses dengan enaknya dunia tadi akan sungguh-sungguh untuk berlomba siapa yang terlama memutarkan gasingnya pada permainan itu. Tapi bagi yang sudah tau hakikat gasing itu hanyalah permainan maka ia tidak mau semenjana dengan urusan akhirahnya. Biar saja kalau gasing itu memang harus berhenti berputar. Toh ada hal lain yang memang jelas jauh lebih penting.

❤❤❤
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allâh-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali-‘Imrân/3:14].
❤❤❤

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
 بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ 
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. [al-A’la/87:16-17].

❤❤❤

Dan sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut ini :
 عن أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ 
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa akhirat menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allâh akan menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, Dia akan mengumpulkan segala urusannya yang tercerai-berai, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa dunia menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allâh akan menjadikan kefakiran berada di depan matanya, Dia akan mencerai-beraikan segala urusannya yang menyatu, dan tidak datang kepadanya dari dunia kecuali sekadar yang telah ditakdirkan baginya”. [HR Tirmidzi, no. 2465. Syaikh al-Albani menyatakan shahîh lighairihi. Lihat Shahîh at-Targhib wat-Targhib, no. 3169]